Home » Kolom » Demokrasi di Ujung Maut » 573 views

Demokrasi di Ujung Maut

Kategori Kolom

Oleh Nasir Pariusamahu
(Mahasiswa Pasca Sarjana Unpatti Ambon)

Saya tidak pernah membayangkan akan hidup di Indonesia. Negara yang bebas, sopan, dan agamis. Disini bergumul segala model kehidupan di dunia. Dari keindahan Taj Mahal, keperkasaan Liberty, kemegahan Eiffel semua menyatu dalam keharmonisan di republik ini.

Tulisan ini, pikiran pribadi ketika menyaksikan kondisi panggung perpolitikan saat ini. Desakan atas fakta-fakta tersebut, sehingga kata-kata rekonstruksi ini tersusun menjadi tata bahasa konstruktif. Sebagai pengingat bahwa kita Indonesia. Senantiasa apapun makanan kita di impor dari luar negeri, darah dan tulang kita tetap berwarna merah dan putih.

Pintu reformasi telah membentuk tatanan baru kehidupan dalam tubuh Indonesia. Segala macam paham ideologi bertumbuh dan berkembang bakeritrosityang mengalir ke dalam tubuh manusia. Membentuk partikel, ada yang  menjadi gen eksklusif, inklusif maupun agresif. Semua itu merupakan ciri dari buah pikiran masing-masingnya.

Walaupun aliran hilir pahamisme beribu-ribu dalam kepala manusia Indonesia, namun muaranya akan bertemu dalam suatu wadah yang namanya demokrasi.

Demokrasi adalah lapangan terbuka. Semua orang, latar belakang, segala warna menjadi pemain didalamnya. Tak perlu asal-usulnya apa, intinya dapat menang dan menikam kawannya. Nah, itu biasanya disebut “tak ada kawan baik dan musuh abadi didalamnya”.

Demokrasi bak intan berlian, seperti Intannya Indonesia yang pernah diraup paksa oleh Tokyo di zaman 1940-an. Padahal, bukan milik Indonesia sesungguhnya. Lalu untuk apa kita berebut demokrasi yang penuh kepalsuan?

Tetiba, kita juga harus sadarkan diri bahwa demokrasi telah menjelma menjadi demigod. Awalnya baik-baik saja, makin ke sini-sini, masing-masing aktor mengadu kharisma dengan cara-cara yang bukan mencerminkan pesan demokrasi itu sendiri.

Warisan Yunani Kuno, telah menjadi sihir yang nyata dalam ajang perebutan tahta dan kekuasaan di era modern. Kota Athena abad ke – 5 Masehi  telah menjadi saksi sejarah lahirnya ide ini. Tentunya bagi Indonesia, tak mengapa, jika semua itu dikembalikan pada semangat awalnya yakni dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Sebenarnya tulisan hanya artikel biasa yang mengungkapkan perasaan akan kondisi kekalutan bangsa saat ini. Sebagai warga Indonesia, kita sangat mencintai Pancasila. Disanalah demokrasi kita sesungguhnya. “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”. Itulah demokrasi Indonesia. Bikinan Indonesia oleh para tokoh-tokoh agama, dan politik. Disitu ada kerinduan akan penjewantahan makna asli itu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ketika demokrasi bukan hanya menjadi sistem pemerintahan, melainkan sistem perpolitikan, maka dipastikan kekuasaan rakyat yang diutamakan. Kekuatan rakyat tidak boleh dibohongi dengan retorika, spanduk, poster-poster maupun sembako.

Jika demikian begitu kita akan kembali pada masa-masa kritis Indonesia, dimana retorika dan aksi massa menjadi tontonan sejarah. Tak ada kesan strategis yang direncanakan. Memang juga itu masanya, kehebatan retorika dan aksi massa.

Di zaman ini, bukan saja itu dikoarkan demi mendapat dukungan. Tapi,kenyataan antara janji dan program yang harus selaras. Jangan-jangan, janji kemakmuran hanya ada pada jadwal kampanye dan melupakan janjinya ketika sudah duduk di singgasana.

Begitulah dengan hari-hari yang terjadi di negeri ini. Kegaduhan membuat rakyat tidak kunjung tidur lelap. Rakyat diteror dengan black campingn, seakan yang cerdas  verbal politik itu hanya para elit politik dan paprol.

Menanti Damainya Jakarta
Dimana. Kemana. Demokrasi yang indah. (Fetya)

Jayakarta adalah gumpalan perasaan Papua hingga Aceh. Hari ini matahari masih bersinar di ibukota. Pilkada unik, satu-satunya yang terjadi di tahun 2017. Jakarta mempunyai sekelumit fakta-fakta perebutan semua kalangan. Disana terjadi pertarungan adidaya kepemimpinan nasional bahkan internasional.

Setelah ketokohan SBY terdepak dari pilkada putaran pertama, wajah Jakarta kembali meraung sakit. Sedikit demi sedikit pertarungan makin sengit, mulai menggelitik. Head to head. Disaat kayak gini, semua jenis amunisi terbaik dari the best dikeluarkan oleh semua sayap-sayap kandidat.

Ini pertarungan besar. Namun, dalam teori pilkada, ada jua yang kalah dan ada yang menang. Maka dalam teori lapang dada; terima kekalahan, menang merangkul. Itulah kemenangan. Apapun jua, mari jadikan politik yang semulanya dangerous menjadi permainan yang atrataktif, seru tapi tidak berbahaya (Anis Matta)

Jakarta adalah rebutan. Disinilah  34 daerah diatur. Menariknya di pilkada kali ini, sejak api reformasi berkobar, menyimpan skala perbedaan ideologi yang cukup mencolok. Di Kota Fatahillah ini juga politik transaksional dan transformasional berlaku sangat tepat. Semua sentimen lembaga-lembaga pendukung kandidat diarahkan ke medan tempur.

Tapi uniknya, hingga malam perhelatan pemilihan, KPU sebagai badan penyelenggaraan menyuguhkan air keharmonisan dalam diri semua kandidat. Walau sebelumnya suasana sempat terus memanas, kita salut sama KPU.

Dari pertarungan ini, kita juga belajar seni anarkisme dan diplomasi dalam politik Jakarta. Namun, dibalik itu semua pada akhirnya KPU dan rakyat pengendalinya di TPS-TPS. Jadi marilah cukup kotori jari kita dengan tinta biru bukan hitami pelaksanaannya.

Disisi lain, lembaga survei seakan tak berfungsi, adegan angka-angka statistiknya tergantikan dengan perang sembako di masa-masa tenang. Ternyata setelah ditelusuri, sembako masih menjadi alat jual yang paling efektif bagi meraih dukungan. Sekali lagi, ini fenomenal.

Jakarta adalah jantung NKRI. Hati dan tulang rusuknya parpol. Ideologi adalah mesin ruh. Parpol adalah mesin jasadnya. Berpola saling menyatu. Sehingga seakan kiamat  datang  di kota metroplitan itu.  Disitu, dari balik awan putih, kusaksikan sayap Jibril turun memberikan wahyu di Jakarta di tanggal 19 April 2017:

Begini wahyunya:

“Kami menolak perundingan terhadap segala kebatilan yang tiada berdasarkan hak mutlak rakyat Jakarta. Kami juga menolak segala bentuk politik perpecahan, karena dengan perpecahan tiada beguna, akan mengulur-ngulur waktu saja untuk tumbuh dan membiarkan penjajah baru menancapkan kuku mereka kembali.

Harus kau tau, rakyat Jakarta. Kita cukup dibonsai 350 tahun, ditambah derita 2,5 tahun dan dikebiri haknya setelahnya. Dan kau, Jakarta adalah saksi bisu peralihan masa-masa kelam itu.

Untuk itu, harus ada pengakuan lebih dahulu. Para pimpinan parpol dibalik hebatnya kandidat, bahwa musuh bersama mereka adalah perpecahan dan kawan baiknya adalah  persatuan. Sehingga, pasca ini Jakarta bisa tetap percaya diri sebagai ibukota rakyat 200-an  juta jiwa ini. Saatnya Jakarta menentukan arah, sifat, dan urusan perekonomiannya, politiknya, kebudayaannya, tata pemerintahannya demi menjunjung sila persatuan Indonesia dan keadilan bermartabat.

Kemenangan Jakarta. Kemenangan rakyat. Setelah pilkada, gerombolan Jin harus pergi dari sana!” wallahu ‘alam bis shawab. ***

Tags:

Portal Berita dari Timur Indonesia ini dibangun dengan tujuan untuk ikut berkontribusi dalam mewartakan kabar dari kawasan Timur Indonesia.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*