Alternatif Permodalan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia Melalui Wakaf Uang

Kategori Ekonomi/Kolom

Oleh Sunarmo

Tujuan bangsa Indonesia telah tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Jika tujuan tersebut terwujud secara keseluruhan maka Indonesia akan setara dengan negara maju di kawasan Eropa dan Amerika Utara. Perlu digarisbawahi kata “kesejahteraan umum” yang merupakan tujuan utamanya yang kurang terwujud dalam beberapa dekade terakhir. Permasalahan utamanya terlihat dari angka kemiskinan dan  pengangguran yang begitu kompleks. Badan Pusat Statistik merilis jumlah pengangguran di Indonesia per 2016 sebanyak 7,02 juta orang, sedangkan jumlah penduduk miskin sebanyak 28,01 juta orang. Kedua fenomena ini bagaikan lingkaran setan yang sulit terputusnya.

Berbagai kebijakan telah dilakukan oleh pemerintah untuk menanggulangi hal tersebut misalnya penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) namun faktanya kebijakan tersebut kurang mampu mendongkrak jumlah pelaku UMKM. Selain keterbatasan jumlah di daerah – daerah pedalaman, juga prosedur dan syarat pinjaman yang umumnya cukup sulit bagi masyarakat desa.

Oleh karena itu dituntut mencari sumber pendanaan alternatif yang mudah dan mampu menjangkau calon pelaku UMKM di daerah.  Salah satu alternatif yang tepat yaitu Wakaf. Wakaf  merupakan bentuk penahanan hak milik atas materi benda untuk tujuan menyedekahkan manfaatnya. Selama ini wakaf yang kita umumnya berupa aset tetap seperti tanah dan bangunan yang sifatnya kurang produktif.  Namun wakaf di era modern tidak terbatas pada aset tetap melainkan penggunaan aset lancar seperti uang tunai lazim digunakan. Penggunaan uang sebagai instrumen wakaf telah dibukukan dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia pada 11 Mei 2002 yang isinya sebagai berikut: (1) waqaf uang adalah wakaf yang dilakukan seseorang, kelompok orang,  lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang tunai; (2) termasuk ke dalam pengertian uang adalah surat – surat berharga seperti saham dan obligasi; (3)wakaf uang hukumnya jawaz (boleh); (4) wakaf uang hanya boleh disalurkan dan digunakan untuk hal – hal yang dibolehkan secara syar’i; dan (5) nilai pokok wakaf uang harus dijamin kelestariannya, tidak boleh dijual, dihibahkan, dan diwariskan.

Badan Wakaf Indonesia (BWI) sebagai lembaga penghimpun dana wakaf telah membentuk skema wakaf tunai sebagai berikut.

Deskripsi Gambar 1. Meliputi pihak pemberi wakaf (waqif) membeli selembar sertifikat wakaf tunai yang diterbitkan oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI) lembaga ini memiliki managemen yang bertugas menghimpun dan menyalurkan wakaf (nadzhir). Dana wakaf tunai yang terkumpul akan disalurkan oleh nadzir ke pelaku usaha khususnya sektor riil yang produktif dan halal. Setelah jangka panjang maka pelaku usaha memperoleh hasil investasi berupa laba. Penyaluran hasil investasi 10 persen untuk pengelola wakaf (nadzhir) dan 90 persen diberikan kepada pihak yang membutuhkan (mauquf’alaih). Skema berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah) dimana nadzir sebagai pemilik dana (shahibul mal) dan pelaku usaha sebagai pengelola dana (mudharib).

Indonesia memilliki potensi besar dalam penyerapan wakaf uang guna membangun perekonomian, salah satu aspek yang mendukung yaitu sebanyak 85 persen penduduk Indonesia beragama Islam. Dapat dibayangkan jika 25 juta umat Islam Indonesia dapat mengumpulkan wakaf tunai senilai Rp100 ribu per bulan, maka wakaf tunai yang terkumpul dalam setahun berjumlah Rp 30 triliun. Jika 60 juta orang berwakaf, maka dana Rp 72 triliun terserap setiap tahunnya.  Ini sangat potensial untuk pertumbuhan sektor riil khususnya pengembangan sektor informal dan sektor UMKM. Kedua sektor ini selain tahan terhadap krisis dikarenakan menggunakan sumber daya lokal baik bahan baku maupun tenaga kerja. Namun lebih dari itu keduanya memiliki peranan penting bagi pertumbuhan ekonomi terutama dalam memutus tali kemiskinan dan pengangguran. Inilah peluang yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah.

Optimalisasi wakaf tunai bagaikan membangunkan raksasa yang sedang tidur, bahkan mata rantai kemiskinan di Indonesia dapat diputus dengan mudah. Dari potensi masihkah engkau ragu dengan peran wakaf tunai dalam mengentaskan kemiskinan di Indonesia ? luruskan niat dan buanglah keraguanmu. Kini saatnya pemuda islami yang berkarakter ekonom rabbani bergegas melakukan suatu gerakan. Karena intelektual tanpa realita adalah teori – teori saja. Gerakan wakaf tunai yang tepat dalam mengentaskan kemiskinan di Indonesia yaitu pendekatan teori dan praktik. Masih awamnya istilah wakaf tunai di Indonesia merupakan masalah yang harus dipecahkan oleh kita. Kampanye dan sosialisasi besar – besaran merupakan langkah pertama yang harus dilakukan. Dengan hal ini diharapkan  masyarakat lebih paham dan tertarik dengan wakaf tunai.

Langkah kedua dengan melakukan gerakan wakaf tunai secara langsung bekerjasama dengan Badan Wakaf Indonesia selaku lembaga penghimpun wakaf tunai. Dengan membentuk desa binaan (desa yang tergolong miskin) yang masyarakatnya diidentifikasi menjadi dua objek, yaitu sebagai pelaku usaha dan mauquf’alaih. Sehingga desa tesebut mandiri. Sedangkan sasaran utama pemberi waqaf (waqif) berasal dari golongan orang kaya yang sudah memiliki pendapatan tetap. Penulis meyakini bahwa menjadi seorang waqif tidak memberatkan hal ini karena seseorang tidak harus memiliki tanah dan harta 1 nishab terlebih dahulu untuk melakukan wakaf tunai. Karena dengan uang sudah dapat berwakaf. Sungguh mudah bukan. Langkah ini diharapkan menjadi terobosan penting dalam memutus mata rantai kemiskinan yang berbasis islami. ***

Tags:

Portal Berita dari Timur Indonesia ini dibangun dengan tujuan untuk ikut berkontribusi dalam mewartakan kabar dari kawasan Timur Indonesia.

4 Comments

    • Terima kasih atas masukannya saudara Boby, memang terdapat beberapa kesalahan bahasa yang umumya terkait kata hubung. sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas kritik yang membangun ini semoga kedepannya dapat menjadikan tulisan saya lebih tertata dengan baik sesuai kaidah EYD

    • Maaf mas anditama, itu adalah sebuah masukan untuk lebih memoerhatikan kaidah EYD dalam penulisan. Jangan jadi penerus anti kritikan. Maaf

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*